Semai Jiwa Kepemimpinan Islami, PPHQ Hamalatul Qur’an Al-Falakiyah Gelar Workshop Leadership untuk Ustadz, Ustadzah, dan Pengurus Santri

Bogor, 29 Juli 2026 — Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an (PPHQ) Al-Falakiyah kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun kualitas sumber daya manusia melalui penyelenggaraan Workshop Leadership bertema “Kepemimpinan Modern Islami untuk Membangun Generasi Unggul dan Lembaga yang Maju.” Kegiatan yang berlangsung di Aula Banat PPHQ Hamalatul Qur’an Al-Falakiyah ini diikuti sekitar 70 peserta, yang terdiri atas keluarga besar pesantren, para ustadz dan ustadzah, serta Pengurus Organisasi Santri Al-Falakiyah (OSFAL).

Workshop ini menjadi bagian dari ikhtiar pesantren dalam menyiapkan pemimpin-pemimpin muda yang tidak hanya memiliki kapasitas intelektual dan kemampuan organisasi, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai Islam. Di tengah berbagai tantangan dunia pendidikan saat ini, kepemimpinan menjadi salah satu kompetensi penting yang perlu terus ditumbuhkan agar lembaga pendidikan Islam mampu berkembang sekaligus tetap menjaga jati dirinya.

Suasana kegiatan berlangsung hangat, penuh semangat, dan interaktif sejak awal hingga akhir. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi, berdiskusi, berbagi pengalaman, serta merefleksikan kembali peran masing-masing sebagai pendidik, pengasuh, maupun penggerak organisasi santri. Workshop ini menjadi ruang belajar bersama untuk memperkuat visi, memperluas wawasan, dan menumbuhkan semangat kolaborasi di lingkungan pesantren.

Dalam sambutannya sekaligus sebagai moderator kegiatan, Ustadzah Eva Zamzamiyatul Musyarofah, S.Kom., M.M., M.Psi., menyampaikan bahwa pelatihan kepemimpinan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan nyata para pendidik dan pengurus pesantren. Menurutnya, di tengah aktivitas dakwah dan pendidikan yang padat, tidak sedikit ustadz dan ustadzah yang membutuhkan penyegaran motivasi, penguatan perspektif kepemimpinan, serta wawasan baru agar tetap mampu memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik.

Beliau juga menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi bekal berharga bagi para pengurus OSFAL yang setiap hari berhadapan dengan berbagai dinamika organisasi santri. Pengalaman belajar langsung dari seorang praktisi dan pakar manajemen sumber daya manusia diharapkan mampu memperkaya cara berpikir mereka dalam memimpin, mengambil keputusan, membangun kerja sama, dan menyelesaikan berbagai persoalan organisasi secara lebih dewasa.

Sebagai narasumber utama, Dr. H. Jumadi Subur, S.E., M.M., CPHR, menyampaikan materi kepemimpinan dengan pendekatan yang inspiratif dan mudah dipahami. Melalui kisah kepemimpinan Sultan Muhammad Al-Fatih dalam menaklukkan Konstantinopel, beliau mengajak peserta memahami bahwa pemimpin besar tidak lahir secara instan, tetapi dibentuk oleh visi yang kuat, karakter yang kokoh, dan kesungguhan dalam menjalani proses.

Dalam pemaparannya, Dr. Jumadi memperkenalkan konsep 4-ON Leadership, yaitu Vision, Action, Passion, dan Collaboration. Menurutnya, setiap pemimpin harus memiliki Vision, yaitu cita-cita besar yang diterjemahkan ke dalam tujuan dan perencanaan yang jelas. Visi akan menjadi arah yang menjaga setiap langkah agar tetap fokus pada misi dan cita-cita lembaga.

Konsep kedua adalah Action, yaitu keberanian mewujudkan visi melalui aksi nyata. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki ide besar, tetapi juga harus membiasakan budaya kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Ketiga nilai tersebut menjadi fondasi agar setiap program yang dirancang dapat diwujudkan secara konsisten dan memberikan manfaat yang nyata bagi umat.

Selanjutnya adalah Passion, yaitu semangat yang terus menyala dalam menjalankan amanah. Dr. Jumadi mengingatkan bahwa rasa cinta terhadap profesi sebagai pendidik, pengurus organisasi, maupun pelayan umat akan melahirkan energi positif yang membuat seseorang tetap bertahan menghadapi tantangan. Sementara itu, Collaboration atau ta’awun menjadi kunci keberhasilan sebuah lembaga. Pesantren yang besar tidak dibangun oleh satu orang, tetapi oleh orang-orang yang memiliki semangat saling menguatkan, saling melengkapi, dan bergerak bersama dalam satu visi.

Penyampaian materi yang dipadukan dengan kisah sejarah Islam, refleksi kehidupan, serta berbagai contoh nyata membuat suasana workshop terasa hidup. Sesekali peserta diajak berdiskusi, merenung, dan menyusun langkah konkret yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan yang komunikatif tersebut membuat materi kepemimpinan terasa dekat dengan realitas para peserta, baik sebagai guru, pengurus organisasi, maupun calon pemimpin umat.

Salah seorang peserta, Naufal, mengaku sangat antusias mengikuti workshop tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan tidak hanya memberikan wawasan baru tentang kepemimpinan, tetapi juga membangkitkan semangat untuk memperbaiki diri. Ia merasa terdorong untuk menyusun perencanaan hidup yang lebih baik, memiliki target yang jelas, berani mengambil aksi nyata, serta berkomitmen memberikan kontribusi terbaik bagi masa depan dirinya dan kemajuan Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an Al-Falakiyah.

Melalui kegiatan ini, PPHQ Hamalatul Qur’an Al-Falakiyah berharap budaya kepemimpinan yang visioner, kolaboratif, dan berlandaskan nilai-nilai Islam semakin tumbuh di lingkungan pesantren. Dengan penguatan kapasitas para ustadz, ustadzah, serta pengurus santri, pesantren optimistis dapat terus melahirkan generasi Qur’ani yang tidak hanya unggul dalam ilmu dan akhlak, tetapi juga memiliki kemampuan memimpin, menggerakkan perubahan, serta memberikan manfaat yang luas bagi agama, bangsa, dan masyarakat. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *